![]() |
| Diana Cristiana Dacosta Ati - pic by Kompas |
Sebagai penerima Satu Indonesia Award 2023 di bidang pendidikan, Diana menjadi simbol nyata perjuangan seorang guru yang berjuang bukan demi kemewahan, melainkan demi masa depan anak-anak yang nyaris terlupakan.
Langkah Panjang dari Nusa Tenggara Timur ke Pedalaman Papua
Perjalanan Diana dimulai dari kampung halamannya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak kecil, ia sudah menyaksikan bagaimana pendidikan menjadi hal yang langka di pelosok-pelosok daerah. Banyak anak seusianya waktu itu harus berjalan jauh untuk bisa sampai ke sekolah, sementara sebagian lainnya bahkan tak pernah sempat duduk di bangku belajar. Dari situlah benih keinginan untuk menjadi guru tumbuh dalam dirinya.
Ketika kesempatan datang untuk mengajar di Papua Selatan, Diana tak ragu sedikit pun. Meski tahu medan yang akan dihadapi berat, ia merasa terpanggil. “Saya ingin membantu anak-anak yang mungkin belum pernah merasakan arti sekolah sebenarnya,” begitu kira-kira semangat yang ia bawa saat melangkahkan kaki ke tanah baru itu.
Perjalanan menuju Kampung Atti bukanlah perkara mudah. Ia harus menempuh jalur sungai berjam-jam, melewati rawa dan hutan lebat. Sinyal telepon hampir tak ada, listrik pun hanya hidup beberapa jam dalam sehari. Namun, semua itu tidak menyurutkan langkahnya.
Sekolah yang Hampir Mati, Kini Bernyawa Kembali
Saat pertama kali tiba di Kampung Atti, Diana mendapati sekolah dasar di sana nyaris tak berfungsi. Gedungnya rusak, fasilitasnya minim, dan jumlah siswa yang hadir setiap hari bisa dihitung dengan jari. Banyak anak lebih memilih membantu orang tua di ladang atau ikut berburu di hutan daripada datang ke sekolah.
Bagi sebagian besar orang, kondisi seperti itu mungkin membuat menyerah. Tapi tidak bagi Diana. Ia memutuskan untuk bertahan dan mulai mengubah keadaan pelan-pelan. Ia datang dari rumah ke rumah, berbicara langsung dengan para orang tua. Ia menjelaskan bahwa sekolah bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi tentang harapan dan masa depan.
Perlahan, hasilnya mulai tampak. Jumlah siswa bertambah, semangat belajar meningkat. Anak-anak yang dulunya malu datang ke sekolah kini mulai berebut duduk di bangku depan. “Saya ingin anak-anak di sini bisa percaya bahwa mereka juga pantas punya masa depan,” ucap Diana dalam sebuah wawancara.
![]() |
| pic by Kompas |
Mengajar dengan Hati di Tengah Keterbatasan
Tak ada papan tulis canggih, tak ada proyektor, tak ada jaringan internet. Tapi Diana punya satu hal yang jauh lebih berharga, ketulusan. Ia mengajar dengan alat seadanya: kapur, papan kayu, dan kertas bekas.
Kalau buku habis, ia menulis ulang materi pelajaran dengan tangannya sendiri. Kalau hujan deras datang dan atap sekolah bocor, ia tetap melanjutkan pelajaran di teras atau di bawah pohon besar di depan sekolah.
Baginya, mengajar bukan sekadar mentransfer ilmu, tapi juga memberi makna dan kepercayaan diri. Ia membiasakan anak-anak untuk bercerita, menggambar, dan bernyanyi agar mereka lebih berani mengekspresikan diri. Dalam kelas sederhana itu, tawa anak-anak menjadi musik yang paling indah.
Membangun Kepercayaan di Tengah Perbedaan Budaya
Salah satu tantangan besar yang dihadapi Diana adalah perbedaan budaya. Masyarakat di Kampung Atti memiliki adat dan kebiasaan yang sangat berbeda dengan yang ia kenal di NTT. Ada saat di mana anak-anak harus ikut upacara adat atau membantu keluarga dalam perburuan sehingga mereka sering absen sekolah.
Alih-alih memaksa, Diana memilih memahami. Ia menyesuaikan jadwal belajar dengan rutinitas warga setempat dan bahkan ikut dalam beberapa kegiatan adat. Dengan pendekatan yang lembut, ia perlahan mendapatkan kepercayaan masyarakat.
“Kalau mau mengajar di sini, kamu harus jadi bagian dari mereka dulu,” katanya suatu kali. Prinsip itu membuatnya diterima bukan hanya sebagai guru, tapi juga sebagai bagian dari keluarga besar Kampung Atti.
Dampak Nyata dari Ketulusan
Perubahan nyata mulai terlihat setelah beberapa tahun. Dari hanya segelintir murid, kini puluhan anak rutin datang ke sekolah. Mereka belajar membaca, menulis, dan berhitung. Beberapa bahkan sudah bisa menulis surat untuk keluarganya sendiri.
Lebih dari itu, masyarakat sekitar mulai memahami pentingnya pendidikan. Orang tua kini lebih sering mengantar anak-anaknya ke sekolah. Pemerintah daerah pun mulai memberi perhatian lebih terhadap fasilitas pendidikan di kampung itu.
Bagi Diana, semua itu sudah lebih dari cukup. “Kalau satu anak saja bisa bermimpi lebih tinggi karena sekolah ini, maka perjuangan saya tidak sia-sia,” katanya dengan senyum.
Lebih dari Sekadar Guru
Diana bukan hanya guru di kelas, tapi juga sahabat, kakak, dan kadang ibu bagi murid-muridnya. Ia sering memasak untuk mereka yang datang tanpa sarapan, atau membawa pakaian bekas agar anak-anak punya baju bersih untuk sekolah.
Ia mengajar dengan hati yang utuh. Saat muridnya sakit, ia datang menjenguk. Saat ada keluarga yang kesulitan, ia ikut membantu sebisanya. Semua dilakukan tanpa pamrih.
Apa yang ia lakukan menunjukkan bahwa pendidikan sejati bukan soal gaji besar atau fasilitas megah, tapi tentang kehadiran seseorang yang peduli dan mau bertahan di tengah keterbatasan.
![]() |
| pic by Papua Satu |
Menerangi Generasi di Tanah yang Jauh
Kini, nama Diana Cristiana Dacosta Ati menjadi simbol harapan di Papua Selatan. Berkat kegigihannya, anak-anak di Kampung Atti punya semangat baru untuk belajar. Mereka mulai bercita-cita menjadi guru, perawat, atau bahkan pemimpin di masa depan.
Apa yang dilakukan Diana mengingatkan kita bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil — dari keberanian satu orang untuk tidak menyerah.
Pendidikan di pedalaman memang masih penuh tantangan, tapi selama masih ada sosok seperti Diana, selalu ada alasan untuk optimis. Cahaya itu, meski kecil, terus menyala dan menyebar, satu anak demi satu anak.
Refleksi: Arti Sebuah Pengabdian
Diana mengajarkan bahwa pengabdian sejati bukan tentang seberapa jauh kita bisa pergi, tapi seberapa dalam kita bisa memberi makna di tempat kita berpijak.
Ia datang dari timur, untuk membangun timur. Ia hadir bukan hanya sebagai pengajar, tapi sebagai penanam harapan. Di tanah yang jauh dari keramaian kota, Diana membuktikan bahwa pendidikan bisa menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih baik.
Dan mungkin, lewat tangan-tangan kecil murid-muridnya, benih harapan itu akan tumbuh menjadi pohon besar yang meneduhi masa depan Papua.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar